Menjadi orang kaya dan bergelimang harta ternyata tidak seenak yang dibayangkan banyak orang. Menyandang status miliuner dunia terkadang malah menjadi beban untuk mempertahankan harta kekayaan.

Investor teknologi, Russ Hanneman mengakui tidak mudah menjadi orang kaya dunia. Dia kehilangan harta kekayaan karena tidak bisa bertahan. "Keuangan saya hancur, dan saya bukan miliuner lagi," ucap Russ sambil terisak-isak seperti dikutip dari CNBC, Selasa (22/12).
Bukan tanpa sebab, studi terbaru dari UBS/Pwc mengungkap, hanya 44 persen miliuner dunia pada 1995 bisa bertahan melewati tahun 2014 silam. Itu berarti, 56 persen miliuner pada 1995 kehilangan harta dalam kurun waktu 19 tahun. Mereka juga kehilangan status sebagai miliuner dunia.
Baca Juga : Gimana sih kalau Jokowi rayakan Hari Ibu?
Temuan menunjukkan, sektor yang membuat kekayaan tetap stabil hingga saat ini adalah mereka yang dekat dengan saham, teknologi dan memahami gonjang-ganjing perekonomian global.
"Populasi miliuner sangat berubah dalam 20 tahun terakhir. Ini mencerminkan banyaknya miliuner baru yang bermunculan," isi kutipan laporan UBS dan PwC.
Pada tahun 1995, tercatat hanya 289 orang berstatus miliuner dunia. Angka ini terus naik hingga 2014 yang tercatat mencapai 1.347. Data ini membuktikan bahwa sebagian orang kaya dunia baru mengubah nasib mereka baru-baru ini.
Khusus untuk orang kaya yang bisa bertahan sejak 2005 silam, total kekayaan mereka juga masih terus tumbuh dari USD 365 miliar (2005) menjadi USD 1,38 triliun (2014). Namun sekali lagi, tidak semua bisa bertahan.
